Featured

Tulis 1

This is the post excerpt.

Advertisements

Bikin posting di blog itu bagaikan dua sisi pedang, di satu sisi males, di satu sisi pengen. But i guess that’s always the case in life. Hidup tuh selalu memberi dua sisi yang berlawanan.
Bikin judul blognya aja asal banget. Jadi ini blog mau dijadiin tempat sampah aja, secara mau curhat ke orang ga bisa tuntas, ya siapa juga kan mau terus-terusan mendengarkan curhat orang lain? Hari gini semua orang sibuk dengan diri masing-masing. Plus namanya juga manusia, kadang suka kadang ga suka. Cuma benda mati aja yang bisa konsisten, jadi sekarang curhatnya ke benda mati aja.

107 Kucing

Anakku udah lama minta binatang peliharaan, paling sering sih minta kucing atau anjing. Aku gak pernah mengiyakan karena males aja, nambah kerjaan kan? Kalo anak2 kan mikirnya cuma dapet mainan baru, sementara aku ntar yang musti ngurus.

Beberapa bulan lalu, ada temen kantor yang kayaknya berusaha mewujudkan keinginan anakku 😂😂😂. Kasian kali dia ngeliat anakku ngerengek2 minta binatang peliharaan. Mulai dari nitip kucing di rumah (2 minggu) sehingga anakku seneng banget tak terkira (tapi aku sebel karena kucingnya nyakarin sofaku 😑). Trus sekarang, kucing yang pernah dititipin itu lagi hamil.

Anakku yang mendengar kabar kehamilannya pun dengan tak sabar menunggu, dia berharap bakalan dikasih dan aku bakalan mengijinkan 😁 Tolongggg, aku gimana dongggg, gak mau bikin anak sedih tapi gak mau punya peliharaan juga di rumah.

106 Three Good Things

I feel blessed everyday, but today i am thankful for:

1. Being happy

I am an easy go lucky person, most of the time i am happy and even when i am sad, i am happy. I don’t know how to explain it, maybe i just have a very simple standard or expectation that being happy to me does not require complicated reasoning.

2. Being a sucker at nice thing

I enjoy shopping and even if is said to be shallow, i found it as the easiest way to be happy 😂. That’s why eventhough i like quiet place, i cannot live in a place which does not have a proper mall.

3. Being a little bit weird

I feel like being weird is good. At least for myself, because it keeps me intrigued and amazed of my own life. Weirdness creates reason for me to laugh (at myself 😄) and provides logic to unexplainable things i did/do.

Yay for a good life. Have a blessed day, everyone!

105 Nyinyir

Setiap orang pasti punya saat dimana bisa ngasih penilaian terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas, bisa terhadap orang dengan kelakuan tertentu, asal tertentu, ras tertentu dsb. Boleh jadi itu dibilang generalisasi, tapi ya namanya pengalaman pribadi seseorang kan beda-beda. Untuk bisa membentuk opini, pengalamannya ngga cuma sama satu orang, tapi berkali2 kalo ketemu orang kayak gini, sifatnya begitu…trus bikin kesimpulan sendiri deh.

Nah aku tuh, suka menyamaratakan semua orang yang ngomong dengan bibir atas sampe mancung sebagai orang yang nyinyir heheheheh. Maap…aku tahu aku ga boleh begitu ya, tapi udah kebentuk di otakku demikian, susah ngilanginnya. Abisan sering bener ketemu orang begini dan emang orangnya nyinyir. Not only nyinyir, bahkan seringkali rada jahat.

Ada nih kenalan yang dari awal ketemu, kerjaannya gosiiiipppp mulu. Kadang gosip itu emang menyenangkan, semacam hiburan ringan tapi kalo gosip terus kan ya membosankan. Ga ada omongan lain apa. Apalagi kalo gosipnya tuh ngomongin kemalangan orang lain, bukannya ngebantuin cuma ocip doang. Hidup kita juga not any better kok compared to yang diomongin.

Aku malah mikirnya, itu bibir sampe mancung mungkin memang akibat kebanyakan ngomongin orang 😂😂😂. Postinganku memang ga mutu, maap yah yang udah ngebaca dari awal.

104 Film yang pemainnya dikit

Lagi iseng abis nonton film, trus tergelitik buat bikin posting. Suka kagum sama film yang bisa box office padahal bikinnya cuma bayar sedikit aktor/artis. Karena meski sekarang buat bikin film kolosal bisa pakai teknologi editing, tapi tetep aja bikinnya ribet dan jumlah awal pemain figuran masih puluhan.

Few of movies that use minimum number of actors:

1. Gravity

Ini film sandra bullock, sepanjang film kayaknya cuman sandra seorang yang muncul. Meski cerita filmnya gak terlalu bagus, tapi lumayan box office.

2. Paranormal activity

Pemainnya cuma dua, sama satu lagi yang jadi hantunya 😝 muncul2 tangan/kaki/bayangan doang. Dengan jumlah aktor minim bahkan perekamannya aja kelihatan amatir, box office banget dan sukses bikin aku gak bisa tidur abis nonton. Hehe cemen.

3. Tape

Ini film geje (gak jelas) soal temen sma, pemainnya ada 3 dan setting nya di kamar hotel. Bener2 gak modal hahahha.

4. Before sunrise/sunset

Dua film ini sekuel-an gitu. Ceritanya tentang 2 org yg jatuh cinta setelah ketemu pas lagi vacation. Main actors nya ada dua, si cowok dan si cewek , meski pemain figurannya ada lah….kan di kereta ada yang lewat2 gitu atau di kota ada orang sebagai backround tapi dialognya simply hanya antara 2 main actors tadi.

Sebetulnya asal ceritanya menarik atau berbeda, mau pemainnya berapa juga, tetep bisa laris manis dan bahkan gak perlu aktor terkenal. Buktinya itu paranormal activity yang main aktor amatiran, filmnya bisa bertahan di bioskop lamaaaa. Cuma emang kalo ceritanya membosankan, tambah membosankan kalo pemainnya dikit ya.

103 six going on sixteen

Tadi abis pulang kerja, duduk leyeh-leyeh sambil ngeliatin anak ngerjain PR. Anakku sekarang makin ngeyel hehehehe, kalo diajarin sesuatu, layaknya anak-anak segenerasinya, kritis bener, protes, nanya2 tapi dijawab ngga percaya 😝.

Life is like a lightning, seem to flash within seconds in front of you then gone. Kayaknya baru kemarin hamil dan melahirkan, padahal udah tujuh tahun yang lalu. Udah ngasih apa aja ke anak? Not much really….many times i am busier with my own life rather than thinking about her 😉.

I prepare as much education possible for her, i teach her a little bit of life in different form every now and then. What else? I can say that i am working (mainly) for her. Even by playing, it teaches her something….life is full of winning and losing, rolling like a dice.

She asked me today “why do you keep saying that you love me?”. My answer was “just in case you forgot” and she laughed. She still follows me many times everywhere, not as before where i have zero chance of privacy even in the toilet. Now she only follows me to the bathroom in the morning while i am enjoying my bath. She waits next to me and starts touching all of my skincare, asking its function one by one and try them on. When i am done, she would follow me again and putting interest on my choice of clothes etc.

Soon enough she will be busy with friends, but for now she is still mine 😆.

102 Emotion in Personal Finance

Tiap abis baca-baca financial thingy, jadi galau. Dulu bilangnya jarang galau mbaaa….iyeeee aku ternyata bisa galau juga kalo soal duit. Meski mau mengelak dikit deh, gak galau juga sih, cuma sedikit instropeksi diri.

Misal ya soal best investment itu yang gimana? Trus aset musti menghasilkan bukan sekedar aset mati. Lahhhh aku itu orang jawa, diajarin investasi terbaik (meski kuno) adalah dengan beli tanah/rumah. Gak peduli yang dibeli menghasilkan pendapatan pasif atau nggak, tetep aja beli karena keterikatan emotional 😝.

Ya dimaafkeun lah ortuku yang ngajarin demikian, at least mereka ngajarin sesuatu. Seringkali, financial advisor itu nggak mempertimbangkan faktor emosional seseorang dalam keputusan2 finansial pribadinya. Perbandingannya sama makanan aja deh, ada yang namanya comfort food, orang suka makan sesuatu bukan karena rasa tapi karena makanan tsb bikin hati hangat (possibly due to emotional connection the food correlate to). Nah urusan finansial pun begitu, such as property thing for me….at first i invested in property simply because it makes me feel good. Hiburan ngeliat sertifikat kepemilikan dan property nya itu sendiri yang ada bentuknya (dan gede! bukan secimit macam perhiasan misalnya) itu tak tertandingi lah. Lalu karena dapet income juga dari menyewakan property, tambah senang, merasa wuihhh ternyata keputusan investasiku bagus nih, selain ada kenaikan nilai bangunan, ada tambahan nilai sewa pula.

Then here it comes, financial website showed how bad my return is from such investment 😝. Dibilangnya sebulan musti dapet 1% dari total aset. I don’t know whether i am stupid or other people are just too smart, tapi menghasilkan 1% sebulan dari aset itu susah banget lho. Dulu sih mungkin, property harga 500 juta disewain dapat 50 juta setahun (ini masih less than 1% sebulan tadi ya yang dijadikan patokan sebagai investasi yang “bagus”). Sekarang? Property di jakarta harganya 2M disewain “cuma” dapat 100juta setahun. Itupun belum tentu selalu tersewa.

Then there is this advise to go on stock. Saham itu bagus kalo kita lagi hit jackpot. But how often will it happen? Para bandar yang dapat keuntungan banyak dari saham itu jelas gak bisa dibandingkan ama kita lah, mereka saham naik ato turun tetap untung karena mereka dapat komisi.

Meskipun demikian, bukan berarti trus kita jadi pesimis about investment world. Sama seperti aspek hidup yang lain, the sky will always fall somewhere. Market bisa crash, ekonomi bisa mentok, harga emas gak stabil, many things can happen, but it always come back, to an even better condition. Saham pernah crashed di masa krisis ekonomi, tapi trus gimana? Naik juga kan akhirnya, naik ke posisi rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena apa? Ya duit orang mau ditaruh dimana lagi? Tetep harus diputer juga kan? muternya kemana kalo gak ujungnya ke saham juga.

That’s why i mentioned emotional relation to finance. Kalau investasi itu, yang penting kita happy. Don’t do it only for the money, biar kalo bumi gonjang-ganjing dan langitpun jatuh, at least kita masih bisa bangkit dengan ada semangat. Dalam keadaan terburuk pun, akan selalu ada orang-orang yang mendapatkan keuntungan. Jadi optimislah bahwa kesempatan akan ada dimana yang mendapat keuntungan itu kita.

101 Main Game

Baru-baru ini addiction to playing games dijadikan sebagai salah satu “kelainan” macam autis gitu kali ya buat para psikolog. Memang stigma soal main game (komputer, hp dll) ini cenderung negatif, cuma gara-gara nonton film ready player one aku jadi mikir kalo main game itu soon enough will be part of life.

Aku nulis gini bukan karena akupun kecanduan main game (sampe rebutan ipad sama anak dan kemudian kita bikin giliran main ipad nya hahaha). Soal gadget dan anak ini juga aku maju mundur. Sempat strict ga boleh sama sekali, trus ngeliat anakku awalnya gak tertarik sama ipad, maka ga ada larangan yang diterapkan, sampe pas anakku masuk sd, dia mulai tuh main game, download ini itu, ngedit2 foto lah dll.

Di sekolah anakku ada pelajaran komputer, nah anakku tuh rada ketinggalan awalnya karena dia dulu kan gak suka mainan ipad. Gak ngerti cara click ini itu ataupun istilah-istilah komputer macam icon, folder dsb. Berhubung di rumah ga punya komputer lagi, jadinya anakku belajarnya dari ipad, disitulah dia jadi mulai main game.

Kenapa aku bilang bakalan jadi bagian hidup? Soalnya exposure to gadget tuh ga bisa dihindarin, makin lama bakalan lebih banyak berhubungan ama gadget daripada manusia. Saat ini dibilang gadget bisa bikin kemampuan sosial anak gak berkembang, yet everything never last forever, right? Akan ada masanya dimana sebagian besar orang bakalan gak perlu kemampuan sosial seperti sekarang ini. Or even better (or worse?), kemampuan sosial seseorang akan dinilai dalam bentuk yang lain (such as interaction to machine for example). Verbal capability mungkin gak akan jauh berkurang, karena orang kalau mau mengungkapkan rasa/pikiran, lebih gampang cari emoticon hehehehe.

Jadi kayaknya aku mau ngikutin jaman ajalah. Biarin anak main gadget, kalo perlu mainnya sampe pinter malah. Sapa tahu ntar dia can understand machine better than me yang ngaku2 engineer tapi gaptek soal machinery 😝.